Pada perkembangannya, pemaknaan vintage sendiri lebih akrab bila dikaitkan dengan dunia fashion. Hal ini tidak lain dari perkembangan fashion itu sendiri, yang menampakkan ciri khas dan spesifikasi sangat kental sejak tahun '20-an. Berbekal oleh keingintahuan ini, minggu ini SmartShop CyberShopping mengajak Anda mendedah kilas balik perkembangan fashion dari dekade 30-an, untuk menelusuri jejak sejarah vintage itu sendiri. Tidak ada salahnya
Vintage pada F a s h i o n
Bila ingin bicara tentang fenomena vintage pada fashion, mau tak mau kita harus menelusuri jejak sejarah fashion mulai dari--katakanlah--dekade '30-an. Sebagai negara yang dianggap sebagai salah satu baromoter fashion dunia, mau tahu seperti apa cara berpakaian masyarakat Amerika dari era 30-an?
--1930--
Kolapsnya pasar modal pada 1929, membagi warga Amerika menjadi kalangan "haves" dan "have nots". Saat itu, barang-barang (termasuk pakaian) diciptakan secara massal, menimbulkan penggunaan bahan sintetis yang mudah dicuci. Saat itu, menonton film merupakan hiburan yang paling populer. Tak heran bila keglamoran industri film yang kerap diwakili oleh penampilan para bintang film, menginspirasikan sejumlah model busana. Di antaranya bahan bunga-bunga dan rok-rok yang panjang melambai. Selain itu, muncul model-model glamor lain, seperti busana berpotongan panjang dan gently flowing, bulu-bulu binatang, mantel tanpa lengan, selendang dan hiasan pita-pita.
Pada era ini, B.F. Goodrich mengenalkan pemakaian zipper (resleuting) yang semakin populer dari masa ke masa. Dan penggunaan platform shoes (itu lho, cikal bakal sepatu berhak super tebal, yang gemar dipakai oleh si 'Baby Spice' Emma Bunton) juga pertama kali diperkenalkan oleh desainer Salvatore Ferragamo.
Selain memunculkan fenomena sepatu "Spectator", dekade '20-an juga menandai penggunaan bahan plastik sintetis bernama nilon, yang digunakan sebagai bahan dasar stoking yang washable dan easy-care synthetic. Di tahun ini, untuk pertama kalinya Amerika mengenal pakaian yang bersifat i>well-made, well-cut dan well-priced.
--1940--
Menyusul keprihatinan yang membelit akibat Perang Dunia (PD) II, jumlah material yang biasa digunakan di sejumlah garmen mulai dibatasi.
Pada era ini, muncul trend zoot suit (pakaian yang terdiri dari stelan jaket-jaket berukuran super besar dan celana panjang baggy). Sebagai simbol dari post-war freedom, muncul fenomena kaos-kaos warna terang dengan gambar flora-fauna, buah-buahan dan wanita cantik. Garis-garis pada bikini dibuat lebih seksi, terinspirasi dari percobaan nuklir di South Pacific at Bikini Atoll. Pada akhir '40-an, para wanita mulai mencoba mengenakan rok yang lebih panjang dan "penuh", plus blus-blus bergaris feminin.
--1950--
Terbebas dari tekanan selama PD II, fashion mulai menjadi lebih kreatif. Kaum wanita masa ini menginginkan busana yang menonjolkan nuansa anggun, sophisticated dan sex appeal mereka. Adalah Lana Turner yang memulai tren pointed bras (bra kerucut, yang pernah dipakai Madonna dalam salah satu konsernya di tahun 80-an) dan twin sets. Pada era ini, garis-garis seksi bikini yang dinilai semakin seronok, mulai menciptakan polemik.
Berhubung semakin banyak rumah tangga yang memiliki TV-set, muncul ikon kebudayaan pop James Dean yang memunculkan fenomena "teen rebel look". Era ini juga mengawali eksistensi poodle skirts (rok berbentuk "balon" yang ujungnya dihiasi aplikasi berbentuk anjing pudel), sepatu sandal, Letterman's Jacket dan kacamata berbentuk mata kucing yang item paling populer di sejumlah SMU. Pada era ini, untuk pertama kalinya, kaum tua mengikuti tren mode yang diciptakan para kaum yang lebih muda.
Sejumlah bintang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar